ABALABAL.CO – Sebuah unggahan sayembara di media sosial tak pernah disangka akan menjadi jalan sejarah bagi Kadek Dika Wirawan (22). Di usianya yang masih muda, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Institut Mpu Kuturan (IMK)—salah satu Perguruan Tinggi Keagamaan binaan Kementerian Agama (Kemenag)—berhasil menorehkan warisan abadi bagi wajah baru Kabupaten Buleleng.
Dari 868 usulan nama yang masuk dari berbagai penjuru, gagasan Dika justru yang terpilih menjadi identitas resmi kawasan Titik Nol Kota Singaraja: Praja Mandala Singa Ambara Raja.
Bagi Kementerian Agama, capaian ini bukan sekadar cerita tentang seorang mahasiswa yang memenangkan sayembara. Ini adalah manifestasi nyata dari visi pendidikan keagamaan di Indonesia: melahirkan generasi intelektual yang berakar pada tradisi, peka terhadap budaya, dan berkontribusi langsung pada pembangunan peradaban negerinya.
Kemenangan Dika tidak lahir dari ruang hampa atau kebetulan semata. Inspirasi itu tumbuh dari proses berpikir kritis yang selaras dengan nilai kearifan lokal yang terus dipupuk di lingkungan kampus keagamaannya. Berawal dari rasa penasaran melihat banyaknya kawasan penting di Bali yang menggunakan kata “mandala”—seperti Niti Mandala di Denpasar atau Yudha Mandala Tama di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng—Dika melakukan pencarian mendalam.
Pencariannya bersentuhan kembali dengan filosofi Tri Mandala dalam tata ruang tradisional Bali—sebuah konsep tata nilai yang membagi ruang menjadi nista, madya, dan utama mandala. Dari akar filosofis inilah, ia memahami bahwa mandala memiliki kedalaman makna sebagai kawasan atau pusat.
Ia kemudian memadukan kata “Praja” yang dimaknainya sebagai pemerintahan. Frasa “Praja Mandala” pun lahir sebagai kawasan pusat pemerintahan. Sementara itu, Dika dengan bijak dan sadar sejarah tetap mempertahankan “Singa Ambara Raja” tanpa gubahan.
“Kenapa saya tidak mengubah atau menghilangkan Singa Ambara Raja? Karena menurut saya nama itu sudah menjadi maskot legendaris Kota Singaraja. Nama itu sudah melekat di hati masyarakat, jadi buat apa dihilangkan,” ujar Dika di Buleleng, Selasa (4/8/2026). Sebuah keputusan yang mencerminkan kedewasaan mahasiswa dalam merawat harmoni antara masa lalu dan identitas masa depan.
Di mata institusi, apa yang dicapai oleh Dika adalah buah manis dari transformasi pendidikan di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan. Rektor IMK, Prof. Dr. I Gede Suwindia, M.A., menegaskan bahwa keberhasilan ini membuktikan bahwa mahasiswa di kampus keagamaan tidak hanya terkurung dalam diktat teori di ruang-ruang kelas, tetapi juga hadir memberikan solusi nyata di tengah dinamika masyarakat.
“Ini tentu menjadi kebanggaan bagi Institut Mpu Kuturan. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan gagasan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Terpilihnya nama ini merupakan bentuk kontribusi intelektual, sekaligus bukti bahwa perguruan tinggi memiliki peran dalam membangun peradaban melalui ide, pemikiran, dan karya,” papar Prof. Suwindia.
Sebagai perpanjangan tangan Kementerian Agama dalam membina generasi bangsa, IMK memang dirancang agar mahasiswanya tidak tercerabut dari urat nadi kebudayaan masyarakatnya. Berbagai kegiatan akademik, mulai dari penelitian hingga pengabdian masyarakat, selalu diarahkan untuk mengasah kepekaan mahasiswa terhadap potensi daerah.
Lebih jauh, Prof. Suwindia mengingatkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam ranah publik adalah bagian dari tanggung jawab intelektual. Pembangunan yang digaungkan pemerintah bukan sekadar urusan aspal dan beton infrastruktur. Pembangunan sejati juga berbicara mengenai identitas, nilai, dan kebudayaan.
“Kearifan lokal merupakan kekayaan yang harus dijaga sekaligus dikembangkan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman,” tegasnya.
Kementerian Agama memandang capaian Dika sebagai sebuah inspirasi yang patut menjadi tolok ukur. Bahwa indikator keberhasilan perguruan tinggi keagamaan bukanlah semata-mata pada jumlah lulusan, melainkan sejauh mana ilmu yang dikembangkan mampu memberi maslahat dan makna bagi ruang publik.
Sayembara itu kini memang telah usai. Namun bagi Dika—dan bagi wajah pendidikan keagamaan di bawah Kementerian Agama—kemenangan sebenarnya adalah ketika gagasan seorang pemuda mampu menghidupkan jiwa sebuah kota. Nama Praja Mandala Singa Ambara Raja kini tak sekadar penunjuk arah fisik, melainkan monumen kebanggaan tentang bagaimana insan pendidikan keagamaan turut mewarnai dan menjaga peradaban Nusantara.




