Jakarta Tuan Rumah FABC XII, Menag Dorong Agama Jadi Jembatan Perdamaian

ABALABAL.CO – Indonesia menjadi tuan rumah Sidang Raya XII Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC), forum tertinggi para pemuka Gereja Katolik di Asia. Sidang tersebut dibuka secara resmi oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta.

Dalam sambutannya, Menag menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Indonesia untuk menjadi tuan rumah pertemuan para kardinal, uskup, imam, biarawan-biarawati, dan delegasi Gereja Katolik dari berbagai negara Asia tersebut. Menurutnya, kepercayaan itu mencerminkan pengakuan dunia terhadap komitmen Indonesia dalam merawat kerukunan dan memperkuat dialog antarumat beragama.

“Atas nama Pemerintah Republik Indonesia, saya menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta di Indonesia. Kehadiran para pemimpin Gereja Katolik dari berbagai penjuru Asia merupakan sebuah kehormatan sekaligus kepercayaan yang sangat kami hargai,” ujar Menag, Selasa (21/7/2026).

Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) merupakan wadah yang menghimpun konferensi waligereja di Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Timur, dan Asia Tengah. FABC dibentuk setelah pertemuan para uskup Asia saat kunjungan Paus Santo Paulus VI ke Manila pada 1970. Organisasi ini kemudian mendapat pengesahan dari Takhta Suci pada 1972.

Sidang Raya XII FABC diikuti lebih dari 120 kardinal dan uskup yang mewakili 22 konferensi waligereja dan yurisdiksi gerejawi anggota FABC di Asia. Selain itu, forum ini juga dihadiri perwakilan Takhta Suci, teolog, pakar, pengamat, serta Sekretariat FABC.

Gelaran ini berlangsung hingga 26 Juli 2026 dengan mengusung tema “You Will See Greater Things: Synodal Conversion and Mission as Bridge-Building in Asia.”

Dalam sambutannya, Menag mengatakan Asia merupakan kawasan dengan tingkat keberagaman yang sangat tinggi, tetapi juga menghadapi tantangan berupa konflik sosial, ekstremisme, perubahan iklim, migrasi, hingga perkembangan kecerdasan buatan. Dalam situasi tersebut, menurutnya, agama harus hadir sebagai kekuatan moral yang mempersatukan dan menghadirkan kasih sayang, bukan memperuncing perbedaan.

“Saya sering menyampaikan bahwa agama ibarat energi yang sangat besar. Energi itu dapat menjadi cahaya yang menerangi kehidupan, tetapi juga dapat menjadi api yang membakar apabila dipahami secara sempit. Karena itu, tugas seluruh pemimpin agama adalah memastikan bahwa agama selalu menjadi kekuatan yang mempersatukan, bukan memisahkan,” ungkapnya.

Indonesia Tawarkan Pengalaman Kerukunan

Menag menilai pengalaman Indonesia menjaga kehidupan masyarakat yang majemuk membuktikan bahwa kerukunan merupakan modal sosial bagi pembangunan. Karena itu pemerintah terus memperkuat Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dialog lintas iman, pendidikan moderasi beragama, dan berbagai kolaborasi kemanusiaan.

“Di situlah agama berbicara melalui tindakan. Di situlah iman diterjemahkan menjadi pelayanan. Dan di situlah kita menemukan kemanusiaan sebagai titik temu seluruh agama,” katanya.

Sinodalitas dan Musyawarah

Menag juga menilai tema Sidang Raya XII FABC relevan dengan kondisi Asia yang tengah menghadapi krisis kepercayaan. Ia menyebut semangat sinodalitas memiliki titik temu dengan nilai-nilai Indonesia, yakni musyawarah, gotong royong, dan semangat berjalan bersama mencari kebaikan bersama.

“Saya percaya semangat sinodalitas yang dikembangkan Gereja Katolik memiliki titik temu dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, yaitu musyawarah, gotong royong, dan semangat berjalan bersama untuk mencari kebaikan bersama,” ujarnya.

Sidang Raya XII FABC membahas berbagai isu pastoral serta tantangan bersama Gereja Katolik di Asia. Forum lima tahunan tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi yang memperkuat kerja sama, dialog, dan misi kemanusiaan di kawasan Asia.

“Semoga Jakarta menjadi tempat lahirnya gagasan-gagasan baru bagi perdamaian. Semoga dari pertemuan ini tumbuh jejaring persaudaraan yang semakin kuat. Dan semoga Asia terus menunjukkan kepada dunia bahwa keberagaman dapat menjadi sumber kekuatan, bukan sumber perpecahan,” tutur Menag. (***)

Pos terkait